Selasa, 04 September 2012

Pesisir Artik Siberia Meleleh Lepaskan Jutaan Ton Karbon



Siberia: Pesisir Arktik Siberia yang sudah membeku selama puluhan ribu tahun, kini mulai melepaskan simpanan karbon ke udara. Menurut penelitian, suhu dunia telah menyebabkan pesisir tersebut meleleh.

Karbon, sumber memanasnya Bumi, sudah terperangkap di sepanjang 7000 km pesisir timur laut Siberia sejak zaman es terakhir. Namun, memanasny
a atmosfer serta erosi pesisir mengoyak lapisan es dan melepaskan sekitar 40 juta ton karbon per tahun ke udara. Angka itu lebih tinggi 10 kali lipat dari yang sebelumnya diperkirakan.

Stok karbondioksida yang dilepas ke udara itu menambah dahsyat efek pemanasan global. Hal tersebut menyebabkan lebih banyak karbon yang lepas ke udara, dan begitu terus selanjutnya.

Sekitar dua pertiga karbon tersebut lepas ke atmosfer sebagai karbondioksida, sedangkan sisanya terperangkap di sedimen lautan bagian atas. Sekitar setengah total jumlah karbon dunia yang terperangkap dalam tanah tertahan di kawasan Arktik.

Menurut penelitian yang dipimpin peneliti di Stockholm University, kawasan pesisir Arktik Siberia sedang mengalami penghangatan iklim dalam skala dua kali lipat lebih cepat dari rata-rata dunia.

Awal pekan ini, ilmuwan AS sudah mengatakan bahwa es laut di Samudra Arktik sudah meleleh sampai ke jumlah paling sedikit.

Kawasan yang diteliti di studi 'Nature', bernama Yedoma, berukuran dua kali Swedia. Kawasan tersebut sangat jarang diteliti, karena lokasinya sulit dijangkau. Temuan itu sekaligus menyoroti lingkaran setan dari isu perubahan iklim.

"Kolaps dan erosi pesisir Pleistosen serta deposit dasar laut bisa mempercepat dampak menghangatnya iklim di Arktik," penelitian tersebut mengingatkan.

Kebocoran atmosfer di Yedoma jumlahnya sama dengan emisi tahunan lima juta mobil, dengan rata-rata buangan karbon lima ton per tahun dari kendaraan di Amerika Serikat.

Dalam studi terpisah yang juga muncul di Nature, peneliti di Inggris, Belanda, dan Amerika Serikat menggunakan model komputer untuk menghitung kemungkinan adanya empat ton gas metana yang tersimpan di bawah lapisan es Antartika. Gas metana menyimpan panas matahari 25 kali lebih banyak dari karbondioksida.

Sebelum beku, kawasan tersebut penuh dengan sisa jasad organik yang terperangkap dalam sedimen yang kemudian tertutup es.

Para peneliti ini menyatakan, "Model komputer kami menunjukkan bahwa dalam jutaan tahun, mikroba mungkin mengubah karbon menjadi gas metana," sehingga kemudian bisa mempercepat menghangatnya iklim jika lapisan es ini mencair.

Hancurnya lapisan es di Antartika dianggap sebagai skenario terburuk oleh para ahli iklim. Beberapa penelitian bahkan menyebut bahwa lapisan es ini malah semakin tebal karena adanya kenaikan hujan salju secara lokal. 

Merayakan hari spesial dengan cara yang sederhana serta ramah lingkungan ternyata bisa juga lho.



Sebetulnya isu mengenai lingkungan adalah masalah kita semua dan tentunya kita patut melestarikannya. Berikut greentipsnya:

Undangan Spesial
Dengan kecanggihan teknologi kini anda bisa mengundang sahabat, rekan serta keluarga lewat internet t
anpa harus memakai undangan kertas. Namun sobat greener juga bisa berkreasi dengan menggunakan bambu ataupun kertas daur ulang. Hasilnya tentu saja unik dan ramah lingkungan.

Lokasi strategis
Adakan pesta di tempat yang mudah dijangkau para tamu, ini untuk mencegah mereka datang terlambat dan membuang waktu. Selain itu tentunya juga mengurangi emisi gas buang karbon dan penggunaan bahan bakar.

Suasana Asri
Tak harus mengadakan pesta di outdoor area untuk menghadirkan suasana asri, sobat greener bisa menciptakan suasana alam di pesta indoor. Tambahkan rangkaian bunga, padukan dengan ranting , rerumputan kering serta tanaman hidup. Ini juga bisa digunakan untuk dekorasi ruangan seusai pesta.

Santapan Lezat
Sobat greener bisa memanjakan tamu dengan menu-menu organic yang sehat dan enak. Ramaikan dengan suasana seru untuk membangun keakraban dan untuk mengurangi sampah gunakan peralatan makan yang bisa dicuci ketimbang sekali pakai.

Dapur Ramah Lingkungan



Ada banyak cara untuk menerapkan desain interior berkonsep green-design (ramah lingkungan) di dapur untuk rumah Sobat greener. Hal ini dapat dimulai dari menggunakan oven hemat energi, pencuci piring dan peralatan, metode pembuangan sampah organik dan lantai organik. 

Tips sederhana bisa membantu Sobat greener untuk merombak dapur yang ada menjadi dapur yang ramah lingkung
an (eco-friendly) dan berkelanjutan.

Ketika merencanakan untuk mendesain interior di dapur, akan sangat terbantu dengan membuat catatan hal-hal yang perlu diganti atau ditukar.

Proses perombakan atau pembangunan dengan perencanaan yang tepat dapat menghemat banyak waktu dan uang. Dalam hal anggaran terbatas, refurnishing dapat dilakukan secara bertahap.

1. Penggunaan Peralatan Dapur yang ramah lingkungan. Oven konvensional besar bisa diganti dengan oven pemanggang listrik yang lebih kecil. Hal ini membantu untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari rumah.

Sebuah lemari es yang baik dapat membantu untuk menjaga keseimbangan antara konsumsi energi dan pengendalian suhu. Hal ini memastikan hidup berkelanjutan dengan konsumsi energi lebih rendah.
Sebagai bagian dari desain interior dapur yang ramah lingkungan, memasang peralatan yang hemat energi juga dapat menghemat tagihan.

2. karpet Organik memiliki serat alami dapat digunakan untuk dapur ramah
lingkungan dan area lain dari rumah. karpet organik berbahan cotton

3. Pengaturan ventilasi dapur.
Dapur dengan ventilasi yang baik akan menggunakan lebih sedikit energi dan pencahayaan buatan di siang hari. udara segar dari jendela membantu untuk menghilangkan gas beracun dan jamur.

4. Lemari Dapur bisa direnovasi dengan cepat menggunakan bahan terbarukan seperti kayu, panel jerami gandum dan kayu non-ilegal logging.

Untuk pembuatan kitchen set ramah lingkungan, Sobat greener dapat memanfaatkan jasa perusahaan yang mengkhususkan diri dalam menggunakan kayu limbah.

5. Tempat sampah non-organik dapat diganti dengan tempat sampah kompos.
Menanam dua atau tiga tanaman sayuran di dapur dapat mengisi rumah dengan oksigen segar sepanjang hari. Tanaman sayuran tadi juga dapat dimakan dan sayuran juga dapat digunakan untuk memasak makanan yang sehat untuk keluarga.

6. Flooring merupakan aspek penting untuk dipertimbangkan ketika menerapkan desain interior dapur ramah lingkungan. Hal ini dapat dicapai dengan lantai bambu didaur ulang, kayu atau batu.

7. Green design-interior di dapur termasuk penggunaan sedikit cat senyawa organik volatile.

Pemanasan global adalah ancaman mendominasi hari ini. Beralih ke rumah ramah lingkungan dapat mengurangi jejak karbon kita di planet bumi.

©[FHI/Berbagi sumber]

GREENFLASH :

Kue-kue kering, coklat, nougat cream, margarin, pizza, salami, spareribs, rumpsteak dan banyak produk lainnya mengandung minyak sawit. Diperkirakan, disetiap kemasan kedua produk makanan mengandung minyak/lemak sawit, demikian menurut WWF. Belum lagi minyak yg digunakan untuk menggerakkan mesin-mesin, bahan kosmetik, pembuatan lilin, sabun, pencuci., dll.

Masalahnya, permintaan
 minyak sawit di dunia tiap tahun naik terus. Menurut FAO, th 2030 nanti ladang sawit akan dua kali lipat jumlahnya dari yg sekarang. Th 2050 malah tiga kalinya.

Korban langsung adalah pembalakan hutan hujan karena sawit tumbuh baik diwilayah itu. Korban selanjutnya, terdesaknya fauna, terutama orang utan. Belum lagi praktek pencaplokkan tanah rakyat untuk dijadikan lahan sawit.

GREENSPIRATION : Bang SABAR Gorky, Pendaki Tuna Daksa Kebanggaan Indonesia



Sabar Gorky , pendaki Indonesia yang berhasil mencapai puncak Elbrus adalah salah satu pendaki fenomenal dunia yang di miliki Indonesia. Banyak kita mengetahui pend
aki - pendaki fenomenal yang berhasil menembus batas ketidakpastian, hingga berhasil membuat mata dunia kagum karena berhasil mencatatkan sejarah di buku Bumi.

Detik - detik mengharukan seorang pendaki tunadaksa dari Indonesia bernama Sabar Gorky yang akhirnya mampu menjejakkan kaki di puncak Gunung Elbrus 5642 M dpl, Rusia. Saat itu ia bersama tim sampai di puncak yang merupakan salah satu anggota dari 7 atap dunia ini pada pukul 1645 waktu setempat atau 1945 WIB tepat pada tanggal 17 Agustus 2011.

Sebuah momen yang sangat langka karena bertepatan dengan hari kemerdekaan bangsa Indonesia. Semoga spiritnya menular ke seantero nusantara bahwa seorang pendaki tunadaksa mampu berkiprah dalam pencapaian prestasi kelas dunia.

Sabar tinggal Desa Gendingan, RT 3 RW 6, Jebres, Solo. Pria kelahiran 9 September 1968 ini telah menggeluti dunia petualang sejak tahun 1985.

Tentunya sudah tidak di ragukan lagi tentang jam terbangnya dalam mengeksplorasi alam pegunungan di Indonesia.
Pada tahun 1996 , Sabar mengalami kecelakaan yang membuat kakinya sebelah kanan terpaksa harus di amputasi. Kenyataan ini ternyata tidak membuat dia memutuskan untuk berhenti dari hobinya, yaitu panjat tebing.

Dengan keadaan yang serba terbatas dia juga masih tetap menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab dalam menafkahi keluarganya.

Sebelum mengalami kecelakaan dia telah aktif menggeluti dunia petualangan. Sederetan gunung tinggi di Indonesia seperti Gunung Merapi, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merbabu, pernah didakinya.

Selain mendaki gunung, ia juga aktif mengikuti perlombaan balap sepeda, dan panjat dinding. Ia bahkan pernah memenangkan medali emas kejuaraan panjat dinding Asia pada tahun 2009.

Setelah kehilangan kaki kanannya, penjelajahannya belumlah berhenti. Justru malah semakin berkibar sepak terjangnya. Terbukti dengan berhasilnya ia dengan satu kaki mendaki Elbrus.

Bahkan saat ini beliau tengah mempersiapkan ekspedisi Gunung Kilimanjaro, puncak tertinggi benua Afrika.

"Dengan kehendak yang Maha Kuasa, kami sebagai manusia tak akan menaklukan, tapi akan bersahabat dengan gunung itu ( Kilimanjaro )," kata Sabar dalam acara pelepasan Tim Ekspedisi di Pusat Niaga JIExpo, Jakarta Pusat.

Sejarah nama Gorky "Gorky" adalah nama baru yang di sematkan di belakang nama Sabar setelah dia berhasil mencapai puncak gunung Elbrus, Rusia. Menurut catatan sejarah Rusia, karena perjalanan hidupnya yang berliku maka pujangga Alexey Maximovich Peshkov mendapatkan panggilan baru Maxim Gorky, alias "Maxim si empunya hidup pahit." Nama akhir Gorky ( pahit ) yang awalnya merupakan olok - olokan bagi si Maxim kini justru menjadi sebuah julukan bernilai positif.

Indonesia pun kini telah memiliki Gorky yang lain: Sabar Gorky.

©[Esabiwibowo--FHI]

©Pic: Doc PribadiFoto: GREENSPIRATION : Bang SABAR Gorky, Pendaki Tuna Daksa Kebanggaan Indonesia

Sabar Gorky , pendaki Indonesia yang berhasil mencapai puncak Elbrus adalah salah satu pendaki fenomenal dunia yang di miliki Indonesia. Banyak kita mengetahui pendaki - pendaki fenomenal yang berhasil menembus batas ketidakpastian, hingga berhasil membuat mata dunia kagum karena berhasil mencatatkan sejarah di buku Bumi.

Detik - detik mengharukan seorang pendaki tunadaksa dari Indonesia bernama Sabar Gorky yang akhirnya mampu menjejakkan kaki di puncak Gunung Elbrus 5642 M dpl, Rusia. Saat itu ia bersama tim sampai di puncak yang merupakan salah satu anggota dari 7 atap dunia ini pada pukul 1645 waktu setempat atau 1945 WIB tepat pada tanggal 17 Agustus 2011.

Sebuah momen yang sangat langka karena bertepatan dengan hari kemerdekaan bangsa Indonesia. Semoga spiritnya menular ke seantero nusantara bahwa seorang pendaki tunadaksa mampu berkiprah dalam pencapaian prestasi kelas dunia.

Sabar tinggal Desa Gendingan, RT 3 RW 6, Jebres, Solo. Pria kelahiran 9 September 1968 ini telah menggeluti dunia petualang sejak tahun 1985.

Tentunya sudah tidak di ragukan lagi tentang jam terbangnya dalam mengeksplorasi alam pegunungan di Indonesia.
Pada tahun 1996 , Sabar mengalami kecelakaan yang membuat kakinya sebelah kanan terpaksa harus di amputasi. Kenyataan ini ternyata tidak membuat dia memutuskan untuk berhenti dari hobinya, yaitu panjat tebing. 

Dengan keadaan yang serba terbatas dia juga masih tetap menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab dalam menafkahi keluarganya.

Sebelum mengalami kecelakaan dia telah aktif menggeluti dunia petualangan. Sederetan gunung tinggi di Indonesia seperti Gunung Merapi, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merbabu, pernah didakinya. 

Selain mendaki gunung, ia juga aktif mengikuti perlombaan balap sepeda, dan panjat dinding. Ia bahkan pernah memenangkan medali emas kejuaraan panjat dinding Asia pada tahun 2009.

Setelah kehilangan kaki kanannya, penjelajahannya belumlah berhenti. Justru malah semakin berkibar sepak terjangnya. Terbukti dengan berhasilnya ia dengan satu kaki mendaki Elbrus.

Bahkan saat ini beliau tengah mempersiapkan ekspedisi Gunung Kilimanjaro, puncak tertinggi benua Afrika.

"Dengan kehendak yang Maha Kuasa, kami sebagai manusia tak akan menaklukan, tapi akan bersahabat dengan gunung itu ( Kilimanjaro )," kata Sabar dalam acara pelepasan Tim Ekspedisi di Pusat Niaga JIExpo, Jakarta Pusat.

Sejarah nama Gorky "Gorky" adalah nama baru yang di sematkan di belakang nama Sabar setelah dia berhasil mencapai puncak gunung Elbrus, Rusia. Menurut catatan sejarah Rusia, karena perjalanan hidupnya yang berliku maka pujangga Alexey Maximovich Peshkov mendapatkan panggilan baru Maxim Gorky, alias "Maxim si empunya hidup pahit." Nama akhir Gorky ( pahit ) yang awalnya merupakan olok - olokan bagi si Maxim kini justru menjadi sebuah julukan bernilai positif. 

Indonesia pun kini telah memiliki Gorky yang lain: Sabar Gorky.

©[Esabiwibowo--FHI]

©Pic: Doc Pribadi

Follow us: @forum_hijau

Penangkaran Berhasil, Induk Harimau Lahirkan 3 Bayi



Seekor induk betina harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) berhasil melahirkan tiga ekor anak yang semuanya berjenis kelamin jantan tanggal 24 Juli 2011 silam. Bayi yang lahir setahun
 silam ini diberi nama Hariara, BIntang Baringin dan Bintang Sorik Marapi. Nama ini diberikan olehWalikota Medan Rahudman Harahap. Induk jantan ketiga anak harimau ini bernama Anhar, yang lahir di Taman Margasatwa Medan 13 tahun yang lalu.

Sementara induk betina bernama si Manis adalah tangkapan BKSDA Sumatera Utara.

Dengan lahirnya tiga bayi harimau ini, maka Taman Margasatwa Medan kini memiliki tujuh ekor harimau. Enam diantaranya adalah jantan, dan hanya seekor yang berjenis kelamin betina, yaitu Si Manis. Dari tujuh ekor yang ada di taman margasatwa ini, empat diantaranya adalah hasil penangkaran.

Pihak Taman Margasatwa sendiri melakukan pola penangkaran dengan melepaskan harimau ini di area Taman Margasatwa yang terletak di Kecamatan Tuntungan ini dan bebas dari kerangkeng. Mereka membatasi persentuhan dengan harimau yang ada di wilayah ini untuk menjaganya tetap liar. Taman margasatwa ini memiliki area seluas 30 hektar, dan membuat proses penangkaran berjalan secara alami.

Pihak pengelola memisahkan pasangan yang baru memiliki anak ini dari harimau jantan lainnya agar tidak terjadi perebutan yang dikhawatirkan akan menyebabkan dampak fisik.

Si Manis, induk harimau yang baru melahirkan tiga bayi ini dua tahun sebelumnya juga melahirkan dua anak berkelamin jantan dari induk jantan yang lain. Namun hingga kini kedua anak harimau tersebut belum diberi nama.

Harimau Sumatera adalah salah satu hewan yang dilndungi berdasarkan Undang-Undang No.5 Tahun 1990. Spesies ini juga mask dalam Daftar Merah IUCN dengan status sangat terancam (critically endangered). Dari Data yang dikeluarkan oleh Tri Siswo dari BKSDA Jambi, jumlah harimau Sumatera tinggal tersisa 400 ekor saja, jauh menurun dibanding temuan penelitian Borner yang dilakukan tahun 1978 yang memperkirakan jumlahnya saat itu masih sekitar 1000 ekor.

Sementara penelitian yang dilakukan oleh Santiaplia dan Ramono tahun 1985, menemukan bahwa harimau Sumatera saat itu berkisar di jumlah 800 ekor.

©[FHI/Mongabay]

©Pic: Kementerian LH
Foto: Penangkaran Berhasil, Induk Harimau Lahirkan 3 Bayi

Seekor induk betina harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) berhasil melahirkan tiga ekor anak yang semuanya berjenis kelamin jantan tanggal 24 Juli 2011 silam. Bayi yang lahir setahun silam ini diberi nama Hariara, BIntang Baringin dan Bintang Sorik Marapi. Nama ini diberikan olehWalikota Medan Rahudman Harahap. Induk jantan ketiga anak harimau ini bernama Anhar, yang lahir di Taman Margasatwa Medan 13 tahun yang lalu. 

Sementara induk betina bernama si Manis adalah tangkapan BKSDA Sumatera Utara.

Dengan lahirnya tiga bayi harimau ini, maka Taman Margasatwa Medan kini memiliki tujuh ekor harimau. Enam diantaranya adalah jantan, dan hanya seekor yang berjenis kelamin betina, yaitu Si Manis. Dari tujuh ekor yang ada di taman margasatwa ini, empat diantaranya adalah hasil penangkaran.

Pihak Taman Margasatwa sendiri melakukan pola penangkaran dengan melepaskan harimau ini di area Taman Margasatwa yang terletak di Kecamatan Tuntungan ini dan bebas dari kerangkeng. Mereka membatasi persentuhan dengan harimau yang ada di wilayah ini untuk menjaganya tetap liar. Taman margasatwa ini memiliki area seluas 30 hektar, dan membuat proses penangkaran berjalan secara alami.

Pihak pengelola memisahkan pasangan yang baru memiliki anak ini dari harimau jantan lainnya agar tidak terjadi perebutan yang dikhawatirkan akan menyebabkan dampak fisik.

Si Manis, induk harimau yang baru melahirkan tiga bayi ini dua tahun sebelumnya juga melahirkan dua anak berkelamin jantan dari induk jantan yang lain. Namun hingga kini kedua anak harimau tersebut belum diberi nama.

Harimau Sumatera adalah salah satu hewan yang dilndungi berdasarkan Undang-Undang No.5 Tahun 1990. Spesies ini juga mask dalam Daftar Merah IUCN dengan status sangat terancam (critically endangered). Dari Data yang dikeluarkan oleh Tri Siswo dari BKSDA Jambi, jumlah harimau Sumatera tinggal tersisa 400 ekor saja, jauh menurun dibanding temuan penelitian Borner yang dilakukan tahun 1978 yang memperkirakan jumlahnya saat itu masih sekitar 1000 ekor. 

Sementara penelitian yang dilakukan oleh Santiaplia dan Ramono tahun 1985, menemukan bahwa harimau Sumatera saat itu berkisar di jumlah 800 ekor.

©[FHI/Mongabay]

©Pic: Kementerian LH

Follow us: @forum_hijau

170 Tukik Dilepas di Pantai Trisik



Kelompok Konservasi Penyu Abadi melepaskan 170 tukik penyu hijau di Pantai Trisik, Galur (31/8). Pelepasan tukik melibatkan 300 siswa TK ABA Banaran dan SD Negeri Brosot.

Ketua Kelompok Konservasi Penyu 
Abadi Joko Samudra mengatakan dari 170 ekor tukik yang dilepas, 66 di antaranya merupakan tukik yang baru saja menetas Rabu (29/8). Sisanya tukik yang sudah berusia dua bulan.

“Tukik-tukik ini dilepaskan karena usianya sudah ideal, selain itu sebagian juga ada yang terserang penyakit jamur,” katanya. Kegiatan ini merupakan pelepasliaran yang kedelapan sejak 2004, Kelompok Konservasi Penyu Abadi sudah menetaskan 62 sarang dengan telur 6.053 butir.

Sementara itu jumlah tukik yang hidup 5.734 ekor dengan jumlah yang dilepas 5.217 ekor.

Siswa TK ABA Banaran dan SD Negeri Brosot sengaja diundang untuk mengenalkan penyu pada anak sejak dini. Agar siswa dapat mengenal penyu dan membantu melestarikan karena termasuk dalam satwa yang hampir punah.

Joko mengatakan, pihaknya masih kesulitan menangani serangan jamur pada tukik usia muda.
Serangan tersebut menimbulkan bercak putih pada tubuh tukik yang berdampak pada kematian.

Upaya penanganan sudah dilakukan bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran UGM, beberapa tukik yang terserang jamur sudah diobati dan diambil untuk sampel pemeriksaan di laboratorium.

“Sampai sekarang kami belum tahu jenis jamur yang menyerang. Pengobatan dilakukan dengan pemberian PK serta pergantian air secara rutin, alhamdulilah berkurang, meski belum sembuh total. Kemungkinan karena faktor udara dan cuaca,” paparnya.

Selain serangan jamur, penyu yang bersarang di Pantai Trisik menurun. Terlebih pascaerupsi Merapi, dari 17 sarang, saat ini tersisa empat sarang dengan telur 350 butir dan tukik yang menetas 330 ekor.

“Kami masih kesulitan dana, untuk pelestarian hanya mengandalkan patungan dan utang. Mencari dana dari instansi sangat sulit,” keluhnya.

Joko berharap, potensi konservasi penyu di Pantai Trisik dapat ditangkap Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kulonprogo sehingga dapat mendukung potensi wisata di Kulonprogo. Pelepasan tukik, menurut Joko rutin dilakukan setiap Agustus karena musim penyu di Pantai Trisik terjadi Mei-Juli.

Pelepasan penyu hijau mendapat respon positif siswa. Mereka antusias mengamati tukik dari dekat, tidak sedikit yang memanfaatkan momen tersebut untuk foto bersama. Aisyah Lampita (10), siswi SD Negeri Brosot mengaku baru pertama kali membantu pelepasan tukik ke laut.

“Semoga tukik yang dilepas bisa berkembang biak supaya tidak punah,” ungkapnya.

Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (Diskepenak) Kulonprogo Endang Purwaningrum mengatakan untuk membantu kendala dana operasional yang dikeluhkan kelompok konservasi, pada 2013 telah mengusulkan bantuan kepada pemerintah provinsi DIJ.

“Pemprov DIJ sudah menyanggupi, nanti akan didukung dana APBD Kulonprogo,” katanya.
Dirinya berharap potensi pelepasan tukik mendapatkan respon Disbudparpora Kulonprogo.

Selain menambah potensi wisata, dukungan tersebut juga membantu upaya pelestarian penyu.
Tukik yang dilepaskan hanya 2-5 persen yang berhasil hidup.

©[FHI/JP]

©Pic: Untung Sihombing
Foto: 170 Tukik Dilepas di Pantai Trisik

Kelompok Konservasi Penyu Abadi melepaskan 170 tukik penyu hijau di Pantai Trisik, Galur (31/8). Pelepasan tukik melibatkan 300 siswa TK ABA Banaran dan SD Negeri Brosot.

Ketua Kelompok Konservasi Penyu Abadi Joko Samudra mengatakan dari 170 ekor tukik yang dilepas, 66 di antaranya merupakan tukik yang baru saja menetas Rabu (29/8). Sisanya tukik yang sudah berusia dua bulan.

“Tukik-tukik ini dilepaskan karena usianya sudah ideal, selain itu sebagian juga ada yang terserang penyakit jamur,” katanya. Kegiatan ini merupakan pelepasliaran yang kedelapan sejak 2004, Kelompok Konservasi Penyu Abadi sudah menetaskan 62 sarang dengan telur 6.053 butir. 

Sementara itu jumlah tukik yang hidup 5.734 ekor dengan jumlah yang dilepas 5.217 ekor.

Siswa TK ABA Banaran dan SD Negeri Brosot sengaja diundang untuk mengenalkan penyu pada anak sejak dini. Agar siswa dapat mengenal penyu dan membantu melestarikan karena termasuk dalam satwa yang hampir punah.

Joko mengatakan, pihaknya masih kesulitan menangani serangan jamur pada tukik usia muda.
Serangan tersebut menimbulkan bercak putih pada tubuh tukik yang berdampak pada kematian.

Upaya penanganan sudah dilakukan bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran UGM, beberapa tukik yang terserang jamur sudah diobati dan diambil untuk sampel pemeriksaan di laboratorium.

“Sampai sekarang kami belum tahu jenis jamur yang menyerang. Pengobatan dilakukan dengan pemberian PK serta pergantian air secara rutin, alhamdulilah berkurang, meski belum sembuh total. Kemungkinan karena faktor udara dan cuaca,” paparnya.

Selain serangan jamur, penyu yang bersarang di Pantai Trisik menurun. Terlebih pascaerupsi Merapi, dari 17 sarang, saat ini tersisa empat sarang dengan telur 350 butir dan tukik yang menetas 330 ekor.

“Kami masih kesulitan dana, untuk pelestarian hanya mengandalkan patungan dan utang. Mencari dana dari instansi sangat sulit,” keluhnya.

Joko berharap, potensi konservasi penyu di Pantai Trisik dapat ditangkap Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kulonprogo sehingga dapat mendukung potensi wisata di Kulonprogo. Pelepasan tukik, menurut Joko rutin dilakukan setiap Agustus karena musim penyu di Pantai Trisik terjadi Mei-Juli.

Pelepasan penyu hijau mendapat respon positif siswa. Mereka antusias mengamati tukik dari dekat, tidak sedikit yang memanfaatkan momen tersebut untuk foto bersama. Aisyah Lampita (10), siswi SD Negeri Brosot mengaku baru pertama kali membantu pelepasan tukik ke laut.

“Semoga tukik yang dilepas bisa berkembang biak supaya tidak punah,” ungkapnya.

Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (Diskepenak) Kulonprogo Endang Purwaningrum mengatakan untuk membantu kendala dana operasional yang dikeluhkan kelompok konservasi, pada 2013 telah mengusulkan bantuan kepada pemerintah provinsi DIJ.

“Pemprov DIJ sudah menyanggupi, nanti akan didukung dana APBD Kulonprogo,” katanya.
Dirinya berharap potensi pelepasan tukik mendapatkan respon Disbudparpora Kulonprogo.

Selain menambah potensi wisata, dukungan tersebut juga membantu upaya pelestarian penyu.
Tukik yang dilepaskan hanya 2-5 persen yang berhasil hidup. 

©[FHI/JP]

©Pic: Untung Sihombing

Follow us: @forum_hijau